Bismillah...
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi
waktu Indonesia tengah. Lagi-lagi saya masih terjaga, bukan karena insomnia
tapi secangkir kopi sore tadi yang masih kuat menghalangiku untuk tidur. Entah
beberapa bulan terakhir kopi sudah tak asing lagi untuk menemani aktivitasku,
padahal efeknya cukup berbahaya bagi kesehatan. Kali ini bukan kopi yang akan
menjadi topik untuk tulisan saya hehe
Seharian ini saya hanya asik
mengotak atik isi laptop, mengulang untuk menonton kembali beberapa film korea
dan india. Kenapa memilih nonton film yang sudah ditonton? Ya, karena semua
film di laptopku sudah saya selesaikan dan juga saya sudah tak punya stok film
yang baru untuk ditonton. Pause, play, next, close. Bosan rasanya! Lanjut saya
mengobrak-abrik file foto-foto, ada tawa yang cukup menggelitik saat yang
kujumpai adalah foto alay jaman dulu. Entah mengapa diantara seluruh foto yang
kulihat, ada satu foto yang membuatku terdiam. Diam memperhatikan inci demi
inci objek yang ada dalam foto tersebut. Bapak, yah itu foto Bapak! Mataku seakan
menjadi cermin retak yang mengeluarkan air yang tertahan akan kejadian duka
yang terselubung oleh waktu lalu. Kupandang lebih dalam foto itu bahkan zoom
yang terbesar sampai terlihat jelas bentuk wajah beliau. Dengan isak yang lebih
besar, saya tetap memandang dan bergumam. Wajah lelaki inikah yang saya warisi?
Wajah lelaki inikah yang menarik hati banyak orang akan sifatnya yang khas?
Wajah lelaki inikah yang kucium terakhir kali dengan uraian air mata? Wajah
lelaki inikah yang selalu kurindukan hadir dalam mimpi-mimpiku? Wajah lelaki
inikah yang membuat rumahku menjadi sepi sejak kepergiannya? Wajah lelaki
inikah yang membuat keluarganya begitu sangat kehilangan? Wajah lelaki ini kah
yang ini dan yang itu? Begitu banyak pertanyaan yang saya lontarkan. Wajah yang
penuh wibawa dan jelas terlihat ramah itu semakin membuatku terisak ketika
memandangnya. Tersontak dihatiku, akankah isakku ini membangunkan penghuni rumahku
yang sedang terlelap? Sedemikian rupa saya menahan isak dan sesak itu. Duka
yang terjadi Sembilan bulan yang lalu masih juga menjumpai keseharian kami.
Sosoknya tak pernah menghilang dari benak kami, bahkan disetiap aktivitas yang
kami kerjakan.
Akhirnya saya menjadi tertarik
melihat semua album foto yang ada diri beliau. Teringat akan mama yang sejak Sembilan
bulan yang lalu hingga saat ini tak mau sama sekali memandang foto suaminya
itu. Mungkin karena memandangnya akan membuatnya semakin luka. Benar! Memandang
foto dan hal yang berkenaan dengan mereka yang telah tiada hanya membuat diri
semakin berlarut dalam luka yang ditinggalkan. Ketika mama dilontarkan
pertanyaan mengapa dia tak mau memandangi foto suaminya itu? Dia hanya membalas “Karena kenangan terbaik itu
terletak didalam hati!”. MasyaAllah, memang benar jikalau kenangan itu tersimpan
di dalam hati. Foto dan benda lainnya bisa saja menghilang, tetapi yang
tersimpan dalam hati akan selalu dikenang selamanya.
Segera saya menutup foto yang
begitu lama kupandangi sampai hidung dan mata memerah. Kubuka file foto Bapak
dan Mama, begitu banyak moment yang terlihat. Ingin melanjutkan memandang foto
mereka lebih lama lagi, tetapi saya pun takut akan berlarut dengan hal itu.
Cukup sudah! Tulisan ini juga diiringi dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga
kacamata yang kugunakan beruap sedemikian rupa. Oh, begitu sakit duka yang terselubung
oleh waktu. Membuat orang-orang yang terlibat selalu saja lupa bahwa itu sudah
menjadi skenario Tuhan. Tetiba saya tersadar, setiap yang bernyawa akan
merasakan kematian! Dan itu akan meninggalkan duka bagi mereka yang ditinggalkan.
Saya berharap duka itu akan terbayar dengan suka cita dikehidupan kekal akhirat.
Bapak, kita akan berkumpul kembali nanti di jannah yang Allah janjikan!
InsyaALLAH :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar